Harga emas belakangan terus menunjukkan tren penguatan
setiap harinya. Harga emas Antam pada perdagangan Jumat (24/7) kemarin tercatat
menguat Rp 7.000 ke level Rp 984.000/gram. Nilai itu menjadi yang tertinggi
setidaknya dalam 10 tahun terakhir.
Lalu, apa saja sih penyebab harga emas bisa sampai pecah
rekor begitu?
1. Stimulus Uni Eropa
Akhirnya, para pemimpin negara Eropa sepakat untuk
menciptakan dana pemulihan US$ 858 miliar (€750 miliar) untuk membangun kembali
ekonomi Uni Eropa dari hantaman virus Corona. Bila dirupiahkan dengan kurs
dolar Amerika Serikat sebesar Rp 14.500, dana pemulihan ekonomi Uni Eropa ini
jumlahnya mencapai Rp 12.441 triliun.
Kabar baik dari Benua Biru tersebut ternyata menjadi pemicu
utama penguatan harga emas saat ini.
"Harga emas memang dalam minggu ini memang lagi bagus,
sangat wajar kalau harga emas itu bagus karena terimbas dari stimulus yang
diterapkan oleh Bank Central Eropa sebesar €750 miliar, sehingga ini
mengakibatkan dampak yang positif buat safe haven," ujar Analis Emas
sekaligus Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi kepada detikcom,
Jumat (24/7/2020).
Apalagi, dari total anggaran stimulus tersebut, US$ 446
miliar di antaranya akan disalurkan sebagai hibah kepada negara-negara Uni
Eropa yang paling terpukul ekonominya. Sisanya disediakan sebagai pinjaman.
2. Perpanjangan Stimulus Tunjangan Pengangguran AS
Di sisi lain, ada kabar baik lain dari Amerika Serikat (AS)
yang juga memberi dampak positif kepada harga emas yakni terkait stimulus
tunjangan pengangguran. Sebagaimana diketahui, Presiden AS Donald Trump
sebelumnya telah berencana mengakhiri program tunjangan pengangguran yang
diluncurkan setelah merebaknya virus Corona (COVID-19). Pemberian tunjangan
tersebut dijadwalkan berakhir setelah 31 Juli mendatang.
Namun, kini ada upaya untuk memperpanjang program tunjangan
pengangguran tersebut dan telah diajukan tambahan stimulus sebesar US$ 1
triliun. Bila disetujui, bukan tidak mungkin harga emas akan melambung tinggi
dari harga saat ini.
"Biasanya pemerintah AS itu sekarang sedang menggodok
di kongres minta persetujuan kongres untuk meminta tambahan tunjangan sebesar
US$ 1 triliun. Nah kalau di minggu depan disetujui oleh Kongres dan Senat AS,
ini harga emas ini akan melambung, bisa saja ke level US$1.950-an/troy
ons," sambungnya.
3. Kekhawatiran akan Gelombang Kedua COVID-19
Selain kedua hal tersebut, faktor lainnya yang turut
mempengaruhi ialah terkait kekhawatiran akan gelombang kedua COVID-19.
"Faktornya sih, karena kekhawatiran akan COVID-19 itu
masih ada ya," kata Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra.
4. Ribut-ribut AS vs China
Kemudian pengaruh lainnya adalah dari memanasnya kembali
hubungan bilateral AS dan China. Untuk diketahui, baru-baru ini China kembali
memberi ultimatum bahwa mereka akan bakal membalas aksi pemerintah Amerika
Serikat (AS) yang menutup salah satu konsulatnya di Negeri Paman Sam tersebut.
China mengatakan langkah AS menutup konsulatnya di Houston
minggu ini telah sangat merusak hubungan keduanya dan memperingatkan AS, mereka
bakal membalas perbuatan tersebut.
"Soal memanasnya hubungan AS dan Tiongkok, dua ini itu
kaitannya dengan perlambatan pemulihan ekonomi," sambungnya.
5. Pelemahan Dolar AS
Selain itu, pelemahan dolar AS juga turut mengambil peran.
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah sejak dua hari lalu
terus mengalami pelemahan. Dua hari lalu berada di level Rp 14.600, kemarin di
level Rp 14.572, hari ini, melemah lagi menjadi Rp 14.513.
"Dua hari terakhir terjadi pelemahan dolar AS karena
pasar khawatir pemulihan ekonomi di AS akan terhambat karena tingginya kasus
COVID-19 di sana," pungkasnya.

Posting Komentar